Page

14 Januari 2012

tanah rantau aku kembali


Sabtu sore ditemani hujan yang tak kunjung reda, keadaan mengharuskanku kembali ke tanah rantau. Rasa malas menghantui saat waktu semakin menepi. Malas kembali hidup seorang diri dengan segala harapan dan asa tuk kehidupan nanti. Sebenarnya gubuk ini juga terlalu nikmat tuk ditempati. Meski, sekedar gubuk reyot seperti tak berpenghuni.

Kulangkahkan kaki gontai ini dan kupaksakan semangat lagi. Entah itu hanya sebuah paksaan diri. Paksaan tuk siap hadapi perjalanan yang selalu tak diminati. Karena hati ini masih terasa singgah disini. Namun, asa telah menanti. Tuk diwujudkan dalam kehidupan nanti. Kehidupan yang kuharapkan bisa melukis sesimpul senyum dan rasa bangga di hati. Tak lain hati sepasang manusia yang selalu menyemangati, yang selalu mengasihi, yang selalu menjadi tumpuan selama ini.



Surabaya telah menanti.
Melambaikan tangannya tuk mengajakku kembali.
Kembali merantau dengan segala sensasi.

Surabaya telah menjadi kota rantauku kini.
Kota rantau dengan segala kepenatannya.
Hiruk pikuk yang menjadi ciri khasnya.
Keglamoran yang mucul dimanapun juga.
Kesenjangan yang timbul amat terasa.


Tapi, aku tetap ingin seperti anak desa. Dengan segala keluguannya. Karena aku memang aku. Tak ada satupun yang sama denganku. Meski kini kota ini telah menjadi teman hidup hingga suatu saat nanti. Namun, aku masih ingin menjadi diri ini. Hidup apa adanya dan mempunyai impian pasti. Impian yang berharap kan jadi suatu kenyataan nanti.

Perantauan kini aku kembali.
Sambut baik diri ini.
Gadis desa yang hanya ingin wujudkan mimpi.
dan
pelangi di setiap hari.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar