Tak sengaja aku membuka file-file kuliahku. Kutemukan tulisan-tulisan jaman semester awal dulu. Tulisan ini adalah hasil karya UAS mata kuliah Filsafat Manusia. Meski tak dapat nilai A tapi alhamdulillah aku puas mendapatkannya. Silakan membaca, tulisan absurd yang entah bermakna atau hanya coretan belaka.
“ISTANAKU, IMPIANKU”
Episode kehidupanku membawa sejuta makna tuk menggapai bintang yang kedipan sinarnya menggambarkan senyuman manis kepuasan dalam singgasana terindah sebuah istana
Hidup bagaikan pilihan manusia untuk merangkai sebuah cerita kehidupan. Merangkai dari sebuah episode-episode yang tak tahu kapan akan berakhir. Cerita yang berharap ending dengan indah dan sempurna.
Hidup ibarat panggung sandiwara. Langkah demi langkah perjalanannya hanya sebuah skenario yang akan ditampilkan untuk menghasilkan sebuah kisah menarik bagi para penontonnya. Hidup bagai sebuah lukisan. Di dalamnya berhamburan berbagai goresan pena beraneka warna untuk ciptakan suatu makna keindahan. Bahkan hidup laksana sebuah mimpi. Mimpi yang berharap menjadi nyata saat kita terbangun seraya membuka mata.
Aku merupakan dalang sekaligus lakon dari sebuah kehidupanku. Merencanakan, menjalankan, melukiskan, dan melakukan sendiri setiap langkah dan jengkal episode kehidupan. Berawal dari seorang aku yang mungil, tak tahu akan dunia dan tujuan keberadaannya. Hingga, kini mampu melukiskan dan merencanakan apa yang akan terjadi.
Perjalanan panjang yang kulalui dalam hidup ini penuh dengan alur cerita. Alur-alur yang runtut dan berkesinambungan terjadi penuh makna. Senang, sedih, gembira bahkan air mata menghiasi setiap jengkalnya. Tanjakan, turunan, hingga jalan terjalpun menjadi pijakan kedua kaki tuk terus melangkah mencari jalan halus nan mulus. Namun, jalan yang berlubang dan berbatu pun tak dapat dipungkiri kemunculannya. Kadang lubang-lubang dan batu-batu itu dapat membuat kita terjatuh. Dan hanya dua pilihan yang akan terjadi, terduduk pasrah meratapi goresan-goresan luka atau berdiri tegap meneruskan perjalanan hidupku.
Aku seonggok daging yang menapaki setiap kehidupan dengan caraku sendiri. Kehidupan yang kadang kulalui dengan berlari atau kadang dengan berjalan terseok-seok sambil menggendong sebuah beban kehidupan. Beban yang biasanya hampir membuatku putus asa tuk meneruskan episode kehidupan dan memilih menonton sejarah yang telah terjadi. Sejarah yang berupa lembar-lembar bermakna, berisi kejadian rangkaian cerita yang mengisahkan seorang diriku yang ingin menggapai sebuah bintang dilangit. Bintang sebagai impian hidupku tuk dapat menemukan sebuah singgasana terindah dalam istana. Dengan sejarah itulah, jalanku yang terseok-seok berat seperti menemukan sebuah lorong ibarat jalan tol yang bebas hambatan dan berusaha berlari menatap ke depan dengan dada membusung seakan percaya bahwa ini semua tidak hanya mimpi untuk menggapai semua angan itu.
Perjalanan panjang kehidupan itu pasti akan berujung ke suatu tujuan pasti. Tujuan hidupku hanya ingin sampai, merasakan dan tinggal di suatu tempat yang entah dimana adanya. Tempat yang terbentang permadani-permadani serta merupakan singgasana sebuah istana indah bernama ‘surga’ yang di dalamnya terdapat bidadari dan bidadara setia mengkilaukan mata. Taman-taman yang sejuk penuh buah-buahan segar, sungai-sungai berair manis berbagai rasa, sehingga tak kan ada rasa dahaga. Berisikan juga berbagai hadiah perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara serta pakaian dari sutera.
Kini aku masih terus berjalan untuk mewujudkan impianku menemukan sebuah istana indah dan tinggal di dalamnya. Namun, aku pun tak tahu dimanakah letak tempat itu dan apakah semua impianku itu hanya sebuah imajinasi atau memang nyata? Aku berusaha menjadi diriku sendiri, seorang iis yang terus berjalan serta terus bermimpi menggapai bintang yang kedipan sinarnya menggambarkan senyum manis kepuasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar