Page

Aku....

Siapakah “Aku” ? mungkin akan terjawab “Aku adalah Manusia”. Namun, Apakah sebenarnya manusia itu? Berbagai pertanyaan seakan berkecamuk dan berputar di otak kita tentang siapa hakekatnya manusia itu.  Karena manusia merupakan sesuatu yang abstrak yang susah diungkap dan dijabarkan. Manusia juga suatu bentuk yang dapat dilihat kasat mata maupun tidak kasat mata. Yaitu terdiri dari jiwa dan raga. Mata telanjang dapat melihat keberadaan siapa manusia tersebut secara raga. Namun, tidak dapat melihat apa sebenarnya jiwa yang berada di dalamnya. Raga akan terus tumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu lamanya hidup di alam duinia ini yang akan sangat tampak perbedaannya. Serta jiwa akan melampaui suatu fase-fase tertentu dalam kehidupan ini sejak saat janin hingga beranjak ke liang kubur.
            Aku adalah manusia dan manusia adalah aku. Aku sebagai manusia yang diciptakan sebagai makhluk dari suatu kepercayaan yang melekat dan mendasar di dalam hati. Makhluk yang memiliki kemampuan berpikir untuk selalu berpikir tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki manusia. Manusia sendiri itulah yang menciptakan segala kelebihan yang ada. Dan makhluk hidup lain tidak akan pernah berfikir akan segala kelebihan dan kekurangan dalam dirinya.
            Aku sebagai manusia terdiri dari berbagai komponen dari ujung rambut hingga ke ujung kaki yang tersusun secara sistematis berdasarkan suatu urutan dan fungsi tertentu yang konon berasal dari suatu unsur alam yang dinamakan tanah. Susunan-susunan tanah tersebut bergabung sedemikian rupa hingga membentuk suatu sel-sel yang menyatu menjadi sebuah jaringan dan membentuk suatu organ. Organ-organ tersebutlah yang membantu kita bisa melakukan apapun yang dikehendaki yang sesuai dengan nilai serta hakekat manusia. Mulai dari merangkak,berjalan,berlari,dsb.
            Manusia benar-benar utuh sebagai manusia apabila dia bisa menempatkan diri dimana tempat yang selayaknya di lingkungan sekitar dirinya. Manusia juga tidak pernah berpikir tentang eksistensi jiwa namun mayoritas dari manusia lebih mementingkan serta memperhatikan eksistensi raganya di kalangan kehidupannya. Karena menurut mereka eksistensi raga akan sangat berpengaruh pada kedudukan dia sebagai manusia di kalangan sekitarnya. Demi mengubah raga agar meningkatkan eksistensinya, banyak dari manusia yang lupa akan jiwanya telah masuk ke dalam suatu kesalahan. Kesalahan yang sangat besar yang disebabkan oleh suatu tatanan baru yang merubah tatanan lama yang telah digariskan dan ditakdirkan.
            Aku seorang manusia yang ditakdirkan menjadi seorang wanita. Wanita bisa dikatakan perempuan, yaitu jenis manusia yang selalu disibukkan dengan penampilan raganya. Mulai dari permak ujung rambut hingga ujung kaki sampai ke hal-hal yang sepele sekalipun. Sebab seorang wanita biasa dikatakan manusia yang mengandung unsur keindahan. Sehingga bnayak diantara wanita-wanita yang justru bingung dengan raganya dan merubah sedemikian rupa agar kelihatan semakin indah bahkan lebih indah dibandingkan wanita-wanita lainnya dan berharap menjadi suatu cara menarik perhatian dari sesosok manusia lain dari lawan jenisnya. Padahal, seharusnya keindahan wanita sebagai manusia yang perfect itu tidak hanya dari kecantikan dan keindahan raga melainkan kecantikan dan keindahan jiwa yang justru sangat penting yang sering diabaikan dan dianggap remeh. Namun, Aku hanya seorang wanita biasa. Wanita yang ingin selalu menjadi apa adanya. Menjadi diri sendiri dan bereksistensi tanpa mengada-ada.
            Intinya, manusia adalah makhluk yang sangat memperhatikan eksistensi dirinya yang dilakukan untuk menaikkan kedudukan dia sebagai manusia di dunia. Yang sering disibukkan dengan hal-hal yang dipikirkan dan dilakukan sendiri dengan memperhatikan komponen-komponen tubuhnya yang menjadi acuan hidupnya.
            Sebenarnya, aku sebagai manusia hanyalah makhluk yang sombong dan lemah. Makhluk yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan siapa pencipta manusia sesungguhnya. Makhluk kerdil yang hanya bisa membanggakan raganya tanpa meninggikan derajat jiwa di hadapan sang pencipta. Padahal, manusia telah berusaha diciptakan dengan sesempurna mungkin yang juga disertai sebuah gumpalan kecil yang diletakkan di rongga dadanya yang seharusnya dipergunakan sebagai dasar manusia itu hidup dan melangsungkan kehidupannya yang didalamnya terdapat suatu kepercayaan yang melekat kuat yang dinamakan iman untuk selalu mengingat,menyembah dan bersimpuh di hadapan sang penciptanya.